Asuhan Keperawatan Pada Anak Dengan Gangguan Sistem Pencernaan Akibat Penyakit Diare
- Pengertian Diare
Diare ialah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, dengan konsistensi encer, dapat berwarna hijau, atau dapat pula bercampur lender dan darah atau lender saja. (Hidayat.A, Aziz Alimul .2008)
Diare merupakan gejala yang terjadi karena kelainan yang melibatkan fungsi pencernaan, penyerapan, dan sekresi. Diare di sebabkan oleh transfortasi air dan elektrolit yang abnormal dalam usus. Di dunia terdapat kurang lebih 500 juta anak yang menderita diare setiap tahunnya, dan 20% dari seluruh kematian yang hidup di Negara berkembang berhubungan dengan diare serta dehidrasi. Gangguan diare dapat melibatkan gangguan lambung dan usus (gastroenteritis), usus halus (enteritis), kolon (colitis),atau kolon dan usus (entrokolitis). Diare biasanya diklasifikasikan sebagai diare akut dan kronis. ( Dona L.Wong, 2008 )
- Etiologi
Kebanyakan mikroorganisme pathogen penyebab diare disebarluaskan lewat jalur fekal oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau di tularkan antar manusia dengan kontak yang erat. Kurang nya air bersih, tinggalnya berdesakan, hygiene yang buruk, kurang gizi dan sanitasi yang jelek merupakan factor resiko utama, khususnya untuk terjangkit infeksi bakteri atau parasit yang patogen. Peningkatan insidensi dan beratnya penyakit diare pada bayi juga berhubungan dengan perubahan yang spesifik menurut usia pada kerentanan terhadap mikroorganisme patogen. Sistem kekebalan bayi belum pernah terpajan dengan banyak mikroorganisme patogen sehingga tidak mempunyai antibody pelindung yang di dapat. (Dona L.Wong, 2008)
- Patogenesis
Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah :
1. Gangguan osmotic
Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotic dalam rongga usus meninggi sehinggaterjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga diare.
2. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan sekresi
Akibat rangsangan tertentu ( misalnya toksin ) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
4. Gangguan motilitas usus
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan selanjutnya timbul diare pula. (Ngastiyah. 2005)
- Patofisiologi
Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi :
1. Kehilangan air dan elektrolit (terjadi dehidrasi) yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolic, hipokalemia)
2. Gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurangt, pengeluaran bertambah).
3. Hipoglikemia
4. Gangguan sirkulasi darah. (Ngastiyah. 2005)
- Komplikasi kehilangan akibat diare
1. Dehidrasi ( ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonic, atau hipertonik ).
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia ( dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia, perubahan elektrokardiogram ).
4. Hipoglikemia.
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.
6. Kejang,
7. Malnutrisi energy protein ( akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik ).(Ngastiyah. 2005)
ASUHAN KEPERAWATAN
DIARE
1.1 Asuhan Keperawatan Anak dengan Masalah Diare
A. Pengkajian
Anamnesa adalah mengetahui kondisi pasien dengan cara wawancara atau interview. Mengetahui kondisi pasien untuk saat ini dan masa yang lalu.
Anamnesa mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat imunisasi, riwayat kesehatan lingkungan dan tempat tinggal.
1. Identitas
Meliputi identitas klien yaitu : nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, suku/bangsa, golongan darah, tanggal masuk RS, tanggal pengkajian, No. RM, diagnose medis, dan alamat.
Identitas penanggung jawab : nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien, dan alamat.
2. Keluhan utama
Merupakan hal yang paling klien rasakan
Contoh : BAB lebih dari 3 x
3. Riwayat Kesehatan Sekarang ( PQRST )
Mengkaji keluhan kesehatan yang dirasakan pasien pada saat di anamnesa meliputi palliative, provocative, quality, quantity, region, radiaton, severity scala dan time.
BAB warna kuning kehijauan, bercampur lendir dan darah atau lendir saja. Konsistensi encer, frekuensi lebih dari 3 kali, waktu pengeluaran 3-5 hari (diare akut), lebih dari 7 hari ( diare berkepanjangan), lebih dari 14 hari (diare kronis).
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Mengkaji apakah pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi parasit), alergi makanan, ISPA, ISK, OMA campak.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji ada atau tidak salah satu keluarga yang mengalami diare.
6. Riwayat Imunisasi
Mengkaji imunisasi yang pernah di berikan kepada klien, seperti imunisasi Polio, BCG, DPT, dll.
7. Riwayat Psikososial
Psiko sosial sangat berpengaruh sekali terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien dapat menerima pada apa yang dideritanya.
8. Lingkungan dan tempat tinggal
Mengkaji lingkungan tempat tinggal klien, mengenai kebersihan lingkungan tempat tinggal, area lingkungan rumah, dll.
1. Antopometri
Pengukuran panjang badan, berat badan menurun, lingkar lengan mengecil, lingkar kepala, lingkar abdomen membesar,
2. Keadaan umum
Klien lemah, gelisah, rewel, lesu, kesadaran menurun.
3. Kepala
Ubun-ubun tak teraba cekung karena sudah menutup pada anak umur 1 tahun lebih.
4. Mata
Cekung, kering, sangat cekung
5. Sistem pencernaan
Mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan bisa minum.
6. Sistem Pernafasan
Dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis metabolic (kontraksi otot pernafasan)
7. Sistem kardiovaskuler
Nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada diare sedang .
8. Sistem integumen
Warna kulit pucat, turgor menurun > 2 dt, suhu meningkat > 375 derajat celsius, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
9. Sistem perkemihan
Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/ 24 jam ), frekuensi berkurang dari sebelum sakit.
10. Dampak hospitalisasi
Semua anak sakit yang MRS bisa mengalami stress yang berupa perpisahan, kehilangan waktu bermain, terhadap tindakan invasive respon yang ditunjukan adalah protes, putus asa, dan kemudian menerima.
1. Laboratorium :
Ø Feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
Ø Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
Ø AGD : asidosis metabolic
Ø Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
2. Radiologi :
Mungkin ditemukan bronchopneumoni
B. Analisa Data
DATA
|
ETIOLOGI
|
MASALAH
|
DS : -
DO :
· Ubun-ubun cekung
· Berat badan turun
· Bising usus meningkat
· Turgor kurang
· Frekuensi buang air besar meningkat
· Muntah
|
(Gangguan Osmotik)
Makanan / zat yang tidak dapat diserap oleh usus.
Tekanan osmotic dalam rongga usus meningkat
Terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus.
Isi rongga usus berlebihan
Merangsang rongga usus yang berlebihan
Diare
|
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
|
DS :
· Klien mengatakan mulut terasa pahit dan badan lemas
DO :
· Anoreksia
· Muntah
· Berat badan turun
|
Gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
Lambung / saluran pencernaan meradang
Nafsu makan berkurang / tidak ada
Intake nutrisi kurang
|
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi
|
DS :
· Klien menyatakan nteri pada bagian daerah anus
DO :
· Frekuensi buang air besar meningkat
· Lecet di sekitar anus
|
Gangguan absorpsi usus
Frekuensi buang air besar meningkat
Anus dan sekitarnya basah dan lembab
Anus dan sekitarnya lecet
|
Potensial kerusakan integritas jaringan kulit sekitar anus.
|
DS :
· Klien menyatakan badannya terasa panas
DO :
· Suhu lebih dari 380C
· Cengeng
|
Invasi kuman di usus
Multiplikasi dalam usus
Peradangan Pengeluaran
usus toksin
Tanda dan Merangsang
radang hypotalamus
Peningkatan Peningkatan
Suhu tubuh Suhu tubuh
|
Gangguan rasa nyaman : panas (hypertermi)
|
C. Diagnosa Perawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output cairan yang berlebihan melalui diare sekunder terhadap gangguan osmotic.
2. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan tidak adequatnya intake nutrisi sekunder terhadap muntah dan diare.
3. Potensial kerusakan integritas jaringan kulit sekitar anus berhubungan dengan iritasi sekunder terhadap frekuensi buang air besar yang meningkat
4. Gangguan rasa nyaman panas (hypertermi) berhubungan dengan proses tidak adequatnya intake nutrisi sekunder terhadap muntah dan diare.
D. Perencanaan Keperawatan
No.
|
Diagnosa Perawatan
|
Tujuan
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan output cairan yang berlebihan melalui diare sekunder terhadap gangguan osmotic. Ditandai dengan :
DS : -
DO :
· Ubun-ubun cekung
· Berat badan turun
· Bising usus meningkat
· Turgor kurang
· Frekuensi buang air besar meningkat
· Muntah
|
Tupen :
Kebutuhan cairan terpenuhi dalam jangka waktu 1x 24 jam.
Tupan :
Keseimbangan cairan dan elektrolit terpenuhi dalam jangka waktu 3x24 jam.
Dengan criteria hasil :
- Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : < 40 x/mnt )
- Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cowong, UUB tidak cekung.
- Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari
|
- Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit
- Pantau intake dan output
- Timbang berat badan setiap hari
- Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada kien, 2-3 lt/hr
- Kolaborasi :
1. Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
2. Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur
3. Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)
|
Penurunan sirkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan pemekatan urin.
Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak adekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.
Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan cairan 1 lt
Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral
Koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.
Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar simbang, antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.
|
2.
|
Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan tidak adequatnya intake nutrisi sekunder terhadap muntah dan diare. Ditandai dengan :
DS :
· Klien mengatakan mulut terasa pahit dan badan lemas
DO :
· Anoreksia
· Muntah
· Berat badan turun
|
Tupen :
Kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam jangka waktu 2 hari
Tupan :
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama dirumah di RS kebutuhan nutrisi terpenuhi
Dengan criteria hasil :
– Nafsu makan meningkat
|
- Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi, berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
- Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah, sajikan makanan dalam keadaan hangat
- Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan
- Monitor intake dan out put dalam 24 jam
- Kolaborasi dengan tim kesehtaan lain :
a. terapi gizi : Diet TKTP rendah serat, susu
b. obat-obatan atau vitamin
( A)
|
Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi lambung dan sluran usus.
Situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.
Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan
Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.
Mengandung zat yang diperlukan , untuk proses pertumbuhan
|
3.
|
Potensial kerusakan integritas jaringan kulit sekitar anus berhubungan dengan iritasi sekunder terhadap frekuensi buang air besar yang meningkat. Ditandai dengan :
DS :
· Klien menyatakan nteri pada bagian daerah anus
DO :
· Frekuensi buang air besar meningkat
· Lecet di sekitar anus
|
Kerusakan kulit tidak terjadi, dengan criteria hasil :
– Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga
|
- Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur
- Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan mengganti pakaian bawah serta alasnya)
- Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
|
Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman
Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban dan keasaman feces
Melancarkan vaskularisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak terjadi iskemi dan iritasi .
|
4
|
Gangguan rasa nyaman panas (hypertermi) berhubungan dengan proses tidak adequatnya intake nutrisi sekunder terhadap muntah dan diare. Ditandai dengan :
DS :
· Klien menyatakan badannya terasa panas
DO :
· Suhu lebih dari 380C
· Cengeng
|
Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi peningkatan suhu tubuh, dengan criteria hasil :
- Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
|
- Monitor suhu tubuh setiap 2 jam
- Berikan kompres hangat
- Kolaborasi pemberian antipirektik
|
Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)
Merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh
Merangsang pusat pengatur panas di otak.
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar